Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Keutamaan Kondisi Lapar, Kehidupan Sulit, dan Merasa Cukup

Keutamaan Kondisi Lapar, Kehidupan Sulit, dan Merasa Cukup

 56 - Keutamaan Kondisi Lapar, Kehidupan yang Sulit; dan Mencukupkan dengan Sedikit Makanan, Minuman, Pakaian, dan Berbagai Keinginan; serta Meninggalkan Syahwat

Keutamaan Kondisi Lapar, Kehidupan Sulit, dan Merasa Cukup

Melalui bab ini, Imam Nawawi ingin memahamkan kita bahwa walaupun hidup susah itu berat, tetapi jangan dilupakan bahwa ia memiliki banyak manfaat dan sisi baik; buat dunia dan akhirat. 

Dan memang benar, banyak harta itu bisa membuat senang, dapat digunakan untuk banyak kebutuhan bahkan amal kebaikan, tapi jangan lupa, bahwa berharta juga ada bahayanya. 

Maka silakan berusaha yang baik untuk dunia, tapi jangan sampai dengan meninggalkan agama. 

Yang kaya harus bersyukur dengan tetap taat dan menjauhi maksiat. 

Yang hidupnya susah: bersabar dan menghibur diri dengan keistimewaan yang menyertainya. 

Ada beberapa fakta dalam ayat-ayat dan hadits di bawah, yang dapat menghibur siapa saja yang hidupnya sedang sulit. Antara lain:

1. Nikmat yang sedikit berarti hisab yang singkat. 

2. Hidup yang sulit ialah hidup yang dipilih oleh Nabi Muhammad ﷺ secara sengaja. Padahal beliau ditawari untuk hidup kaya berlimpah harta, namun, beliau menolak. Dan Nabi ﷺ jelas memilih yang paling baik. 

3. Rezeki cukup sekedar untuk makan adalah doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ. Menandakan istimewanya hidup dengan rezeki sekedar cukup buat makan. 

4. Orang-orang beriman yang namanya harum hingga kini, para sahabat Rasulullah ﷺ, banyak dari mereka yang hidupnya sangat sulit. Bahkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah jatuh pingsan dan sempat dikira gila oleh beberapa orang, padahal sebabnya tidak lain karena kelaparan. 

Bila ini baru sekilas dari banyak keistimewaan lain yang menyertai kondisi hidup sulit, bukankah sebaiknya memang tetap bersemangat dan tidak lemah saat melaluinya?! 

Mengejar Kepuasan Syahwat Sampai Meninggalkan Kewajiban Ibadah adalah Sumber Kehancuran 

Allah ta‘ala berfirman, 

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا 

59. Kemudian datanglah setelah mereka (para nabi) suatu pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginan syahwat, maka mereka kelak akan menghadapi ghayy [kesesatan dan siksa yang pedih di neraka jahanam], 

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا  

60. kecuali orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun,” (Q.S. Maryam)

————————————————————————

Kandungan Ayat

Pengejar kepuasan syahwat yang sampai berani meninggalkan kewajiban agama seperti shalat, maka ia terancam dengan ghayy (tersesat jalan hidupnya). 

Ghayy juga memiliki arti: lembah di neraka jahanam. Sangat dalam dan mengerikan. Di sanalah orang semacam itu akan menerima siksaan atas perbuatannya mementingkan syahwat hingga meninggalkan agama. [Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibnu Baaz (2/258)].

Kadang Kemewahan Dapat Menghancurkan

Allah ta‘ala berfirman, 

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ 

79. Maka keluarlah dia (Qarun) [untuk memamerkan kebesaran dan hartanya] kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّبِرُونَ 

80. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu [tentang Allah dan agama-Nya] berkata [saat mendengar ucapan mereka yang menginginkan dunia], “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar [lebih memilih mengejar pahala daripada dunia yang fana].” (Q.S. Al-Qashash)

Nikmat yang Banyak Berarti Hisab pun Akan Banyak dan Berat

Allah ta‘ala berfirman, 

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ 

“kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang [segala] kenikmatan (di dunia itu).” (Q.S. At-Takatsur: 8)

————————————————————————

Kandungan Ayat 

Nikmat demi nikmat yang kita rasakan akan ditanya oleh Allah. Ditanya tentang bagaimana mendapatkannya: dengan cara halal atau haram? 

Dan ditanya: apakah telah melaksanakan hak syukurnya atau tidak? [Tathriz Riyadhus Shalihin, hlm. 333].

Maka orang yang daftar kenikmatan hidupnya panjang, otomatis panjang dan banyak pula pemeriksaan yang dilakukan kepadanya. 

Dunia yang Berlimpah Tidak Menjamin Keamanan di Akhirat 

Allah ta‘ala berfirman, 

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا 

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) [dengan amal baiknya], maka Kami segerakan [kenikmatan hidup] baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki dan bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan untuknya (di akhirat) neraka jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela [karena lebih memilih dunia dan mengingkari kehidupan akhirat] dan lagi terusir [dari rahmat Allah].” (Q.S. Al-Israʼ: 18) 

والآيات في الباب كثيرةٌ معلومةٌ. 

Ayat-ayat yang serupa dengan pembahasan bab ini ada banyak dan sudah sama-sama diketahui. 

Di antaranya ialah firman Allah ta‘ala, 

وَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتُهَاۚ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya [yang sementara]; sedang apa yang di sisi Allah [pahala besar di akhirat] adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti [untuk lebih memperjuangkan yang kekal daripada yang fana]?” (Q.S. Al-Qashash: 60)

Bagaimana Menu dan Ketersediaan Makanan di Rumah Nabi Muhammad ﷺ

وعن عائشةَ رضيَ اللهُ عنها قالت: «ما شَبعَ آلُ مُحمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ خُبْزِ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ» . متفقٌ عليه .

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, 

“Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari memakan roti sya‘ir (salah satu jenis gandum) selama dua hari berturut-turut, terus begitu sampai beliau wafat.” 

Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (5416) dan Muslim (2970)].

وفي رواية: «مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّد صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُنْذُ قَـدِمَ المَدِينةَ مِنْ طَعامِ البرِّ ثَلاثَ لَيَالٍ تِبَاعاً حَتَّى قُبِض» .

Di satu riwayat lain [Al-Bukhari (6454) dan Muslim (2970)] dengan kalimat, 

“Tidak pernah keluarga Muhammad ﷺ kenyang dari memakan roti berbahan burr (juga jenis gandum) sampai tiga hari berturut-turut semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat.”

————————————————————————

Kandungan Hadits 

1. Menu makanan harian Nabi Muhammad ﷺ sangat jauh dari kata mewah. 

Roti dari gandum jenis sya‘ir ialah jenis roti yang masuk jajaran terbawah. Bahkan konon, tidak banyak yang mau mengkonsumsinya. 

Sedangkan roti dari burr kualitasnya lebih baik. 

Bahkan roti dengan kualitas bawah itu pun tidak bisa setiap hari beliau sekeluarga nikmati. 

“Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari memakan roti sya‘ir selama dua hari berturut-turut.”

Walaupun kadang, beliau dan keluarganya juga memakan roti dengan kualitas lebih baik (burr). Tapi pun sama, tidak di sepanjang waktu. 

Jadi, kadang beliau makan dengan roti yang kasar, kadang roti yang lembut, kadang makan dengan kurma, dan bahkan kadang tidak ada makanan sama sekali di rumahnya! [Syarah Kitab ar-Riqaq min Shahih al-Bukhari karya Syaikh Ibnu Baaz, hlm. 96]. 

Mari merenung dan berpikir sebentar pada satu sisi kehidupan manusia termulia di sisi Allah ini, Rasul kita ﷺ. Lalu bandingkan dengan bagaimana cara kita melihat beragam nikmat dan kenyamanan duniawi. 

2. Kehidupan sederhana ialah pola kehidupan yang baik dan membawa banyak manfaat. Buktinya, Rasulullah ﷺ memilih hidup yang sederhana. 

Rasulullah ﷺ tidak berluas-luas dalam kelezatan makanan dan dunia. 

Dalam kondisi beliau mampu untuk mendapatkan makanan-makanan terlezat saat itu. 

Maka, dari kesederhanaan dan zuhudnya beliau kita belajar untuk tidak tenggelam mencari-cari dan memikirkan sesuatu yang bukan kebutuhan utama hidup. Sederhana saja. Pikirkan yang pokok dan terpenting saja. [Dalil al-Falihin (2/385)]. 

3. Bersabar menghadapi kesusahan hidup. [Syarah Kitab ar-Riqaq min Shahih al-Bukhari karya Syaikh Ibnu Baaz, hlm. 96]. 

Jika belum kunjung mendapat kelapangan, maka tetaplah tabah dan bersabar. Sambil membayangkan bagaimana sabarnya Rasulullah ﷺ. 

Tidak sepekan, sebulan, atau setahun dua tahun. Tapi sepuluh tahun kondisi sulit makanan yang dilalui oleh Rasulullah ﷺ bersama istri-istrinya. 

“Sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari memakan roti berbahan burr sampai tiga hari berturut-turut. Terus demikian hingga beliau wafat.”  

Dan lagi, merenungkan hal ini juga bisa mengobati sedih di akhir bulan akibat kantong kering. 

📝 Catatan

Untuk yang hidupnya berkecukupan, bukan artinya ia memilih makanan dengan gizi rendah atau mengurangi porsi makan bagi dirinya dan keluarga. Jika ada, silakan makan. 

Poin utama riwayat tadi ialah tentang pilihan Nabi Muhammad ﷺ untuk hidup secara biasa. Ini menjadi bimbingan agar arah pikiran kita tidak terlalu besar tentang makanan, kelezatan jasad, dan kemewahan. 

Jika kebetulan tidak ada banyak pilihan makanan, maka makan saja yang ada. Menjadi orang yang sederhana dan tidak repot untuk masalah makanan, dalam rangka mencontoh Nabi Muhammad ﷺ.

Jika ternyata makanan yang terbeli terasa tidak biasa, maka biasa saja. Tidak perlu marah dan berkeluh kesah. Sembari mengingat tentang apa yang dimakan oleh Nabi Muhammad ﷺ.  

Kesabaran Dalam Melewati Hidup yang Sulit

وعن عُرْوَةَ عَنْ عائشة رضيَ اللهُ عنها، أَنَّهَا كَانَتْ تَقُولُ:  «واللهِ يا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إلى الهِلالِ ثمَّ الهِلالِ، ثُمَّ الهلالِ؛ ثلاثةَ أَهِلَّةٍ في شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَ في أَبْيَاتِ رسولِ  اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نارٌ. قُلْتُ: يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُم؟ قالتْ: الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لرسول اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جِيرانٌ مِنَ الأَنْصَـارِ، وَكَانَتْ لَهُمْ مَنَائحُ  فَكَانُوا يُرْسِلُونَ إلى رسولِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ أَلبانها فَيَسْقِينَا». متفقٌ عليه .

Dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, 

“Demi Allah, wahai anak saudariku, kami melihat hilal (bulan sabit), kemudian hilal lagi, kemudian hilal lagi; tiga hilal dalam rentang dua bulan, tetapi tidak pernah api (dapur) dinyalakan di rumah istri-istri Rasulullah.”

Aku bertanya, “Wahai bibi, lalu apa yang kalian makan?” 

“Kurma dan air. Namun, Rasulullah ﷺ mempunyai tetangga orang Anshar yang memiliki hewan perahan, dan mereka menghadiahkan hasil susunya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau memberikannya kepada kami.”

Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (2567) dan Muslim (2972)].

————————————————————————

📖 Kandungan Hadits 

1. Dalam hidup yang sederhana, mengandung kebaikan yang banyak.  

Karena kehidupan sulit seperti keterangan Aisyah di atas ialah hidup pilihan Rasulullah ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ jelas memilih yang terbaik. Jika ingin kaya raya, mudah sekali bagi beliau. Namun, beliau tidak menginginkannya. 

Kembali seperti ulasan hadits sebelumnya: bukan maknanya orang yang kaya dianjurkan hidup susah dan sering kelaparan. Tidak demikian penerapannya. Tetapi agar tidak terlalu repot dan membesarkan masalah makanan yang tersedia. 

Hadits ini juga hiburan untuk yang sedang sempit penghidupannya; hendaklah berbesar hati dan bersabar melewatinya. Sebab kehidupan keluarga termulia di bumi, keluarga Rasulullah ﷺ, bahkan tidak memiliki bahan makanan untuk dimasak sampai dua bulanan. 

2. Boleh menceritakan kesulitan hidup yang pernah dilewati untuk dijadikan pelajaran buat orang lain. Seperti yang dilakukan oleh ibu kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha. 

Yang terlarang ialah menceritakan kesulitan dalam rangka mengemis belas kasih atau ekspresi kekesalan pada keadaan. [Tathriz Riyadhus Shalihin, hlm. 346]. 

Sekedar Roti dari Sya‘ir (gandum) pun Jarang Memenuhi Perut Nabi Muhammad ﷺ

وعن سعيدٍ المقْبُريِّ عَنْ أبي هُرَيرةَ رضيَ اللهُ عنه أَنه مَرَّ بِقَومٍ بَيْنَ أَيْدِيهمْ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَدَعَوْهُ فَأَبى أَنْ يَأْكُلَ ، وقال: «خَرج رسولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم من الدنيا ولمْ يشْبعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ» . رواه البخاري .

Dari Sa‘id al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Beliau pernah melewati sekelompok orang yang sedang terhidang di hadapan mereka daging kambing bakar. 

Lalu mereka mengajak Abu Hurairah makan bersama, tetapi beliau menolak. 

Lalu Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah ﷺ telah meninggalkan dunia ini sedangkan beliau belum pernah memakan roti sya‘ir (gandum) sampai kenyang.”

H.R. Al-Bukhari [5414]. 

————————————————————————

📖 Kandungan Hadits

1. Bersemangat mencontoh kehidupan ala Nabi ﷺ. Beliau tidak terlalu memanjakan syahwat dan bernikmat-nikmat dengan perhiasan dunia. [Rauh wa Rayahin, hlm. 346].

Lihat sikap Abu Hurairah tadi. Ajakan memakan makanan yang nikmat beliau tolak karena mengingat kehidupan Rasulullah ﷺ; beliau berusaha untuk meneladaninya. 

Pembahasan ini begitu menarik. Erat dengan penerapan di keseharian kita. Kehidupan ala Nabi ﷺ dapat menjawab pikiran yang kadang melayang ke mana-mana karena memikirkan apa lagi yang ingin dimakan(?) Jawab saja, “Apa saja yang ada dan mudah didapatkan.” Jangan terlalu repot tentang masalah makanan. 

2. Jika cinta kepada Nabi ﷺ, maka tidak terlalu sulit untuk mengikutinya. 

Syaikh Faishal Alu Mubarak berkata ketika menyebutkan pelajaran dalam hadits di atas, “Orang yang cinta jelas mengikuti jejak orang yang dicintainya.”

Tathriz Riyadhus Shalihin, hlm. 330. 

3. Mengajak makan orang-orang yang saleh ialah amalan yang baik. 

“Lalu mereka mengajak Abu Hurairah makan bersama.”

Nabi Muhammad ﷺ Makan dengan Duduk di Lantai 

وعن أَنسٍ رضيَ  اللهُ عنه ، قال: «لمْ يأْكُلِ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم على خِوَانٍ حَتَّى مَاتَ ، وَمَا أَكَلَ خُبزاً مرَقَّقاً حَتَّى مَاتَ» . رواه البخاري.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, 

“Nabi ﷺ tidak pernah makan di atas meja makan hingga beliau wafat. Dan tidak pernah makan roti yang lembut hingga beliau wafat.”

H.R. Al-Bukhari [4386].

وفي روايةٍ له: «وَلا رَأَى شَاةً سَمِيطاً بِعَيْنِهِ قطُّ» .

Dalam riwayat al-Bukhari yang lain [5421],

“Dan beliau tidak pernah sama sekali melihat seekor kambing bakar.”

————————————————————————

Kandungan Hadits 

Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ jauh dari kata mewah. 

- Nabi ﷺ tidak pernah makan dengan duduk di meja makan. 

- Beliau tidak pernah memakan roti yang lembut. 

- Dan melihat kambing bakar pun jua tak pernah. 

Ini dalil bahwa Rasulullah ﷺ memang berpaling dari kelezatan dunia. Tidak mengejar dan berusaha meraihnya. [Rauh wa Rayahin, hlm. 347].

Dari beliau semestinya kita belajar untuk menerima apa yang ada. Kalau Nabi ﷺ memilih secara sengaja kehidupan semacam itu; untuk kita, setidaknya dengan tidak terlalu banyak menuntut dan mengeluh jika keadaan memang sedang sulit. 

Tidak ada sendok, dengan tangan pun jadi. Tidak ada meja, lantai pun bisa. Tidak ada lauk yang cocok dengan selera, lauk yang terhidang pun sanggup mengganjal perut dan mengenyangkan. 

Sambil mengingat tentang kerasnya hidup yang dijalani oleh Rasulullah ﷺ. 

Bahan Merenung Buat Kita: Nabi Muhammad ﷺ Bahkan Pernah Tidak Memiliki Apa-apa untuk Dimakan

وعن النُّعمانِ بن بشيرٍ رضيَ  اللهُ عنهما قال: «لقد رَأَيْتُ نَبِيَّكُمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وما يَجِدُ مِنْ الدَّقَلِ ما يَمْلأُ به بَطْنَهُ» رواه مسلم .

Dari Nuʼman bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, 

“Sungguh, aku melihat nabi kalian ﷺ pernah tidak memiliki apa-apa untuk mengisi perutnya, walau kurma jelek pun tidak ada.”

H.R. Muslim [2978].

————————————————————————

Kandungan Hadits 

1. Beruntungnya hamba yang diberi karunia sabar dalam melewati kehidupan yang sulit. Sehingga ia mampu menjalani hidup seperti yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ. [Rauh wa Rayahin, hlm. 347]. 

Membangkitkan kesabaran bisa dilakukan dengan memikirkan bagaimana susah sempitnya kehidupan Nabi ﷺ. Serta berdoa, juga berusaha melewati semuanya dengan sabar, tanpa mengeluh dan marah. 

2. Kehidupan Rasulullah ﷺ ialah lembaran terbuka yang diketahui oleh para sahabat. 

Tanpa Nabi ﷺ bercerita, tetapi para sahabat melihat dan tahu persis sulitnya penghidupan beliau. 

Karena itu, para sahabat pun menjadi pribadi-pribadi yang zuhud. Sebab Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan mereka zuhud melalui praktik langsung, bukan hanya lewat ucapan. 

Rasulullah ﷺ Tidak Pernah Melihat Kue yang Lembut

وعن سَهْلِ بنِ سَعْدٍ رَضِيَ  اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «ما رَأى  رَسولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم  النَّقِيَّ منْ حِينِ ابْتعَثَهُ اللهُ تعالى حتَّى قَبَضَهُ  اللهُ تعالى ، فقيل لَهُ : هَلْ كَانَ لَكُمْ في عهْدِ رسولِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَنَاخلُ ؟ قَالَ: ما رأى رسولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُنْخُلاً  مِنْ حِينِ ابْتَعثَهُ اللهُ تَعَالَى حَتَّى قَبَضَهُ اللهُ ، فَقِيلَ لهُ: كَيْفَ كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ الشَّعِيرَ غيرَ منْخُولٍ ؟! قال: كُنَّا نَطْحَنُهُ ونَنْفُخُهُ ، فَيَطيرُ ما طارَ ، وما بَقِي ثَرَّيْناهُ» . رواه البخاري .

Dari Sahl bin Sa‘ad radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat roti yang lembut semenjak Allah mengutusnya hingga Allah mewafatkannya.”

Lalu ada yang bertanya kepada Sahl, “Apakah di masa Rasulullah ada ayakan tepung?” 

Beliau berkata, “Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat ayakan semenjak Allah ta‘ala mengutusnya hingga Allah mewafatkannya.”

Sahl ditanya lagi, “Bagaimana kalian memakan gandum tanpa diayak?” 

Kata Sahl, “Dahulu kami menumbuk gandum itu lalu kami tiup. Maka sebagian ada yang terbang, sedangkan yang tetap, lalu dibasahi dan diaduk untuk dibuat roti.” 

H.R. Al-Bukhari [5413].

————————————————————————

Kandungan Hadits

Roti yang lembut dibuat dari gandum berkualitas baik dan halus. 

Ayakan berfungsi memisahkan antara gandum yang halus dan kasar. Setelah terpisah, maka gandum halus dapat segera diolah untuk menghasilkan roti yang nikmat. 

Dari penjelasan Sahl bin Sa‘ad tadi kita menyaksikan, jangankan roti lembut, perangkat untuk mengayak gandum saja Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat wujudnya. Apalagi roti yang lembut. 

Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat memakan makanan yang mudah didapat. Tidak memaksakan diri untuk mengusahakan makanan jenis tertentu. [Rauh wa Rayahin, hlm. 348].

Kehidupan Nabi dan Para Sahabat

وعن أبي هُريرةَ رضيَ  اللهُ عنه قال: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ ، فَإِذا هُوَ بِأَبي بكْرٍ وعُمَرَ رضيَ  اللهُ عنهما ، فقال: « ما أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُما هذِهِ السَّاعَةَ؟» قالا: الجُوعُ يا رَسولَ  اللهِ . قالَ: « وَأََنا ، والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لأَخْرَجَني الَّذِي أَخْرَجَكُما . قُوموا » فقَاموا مَعَهُ ، فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصارِ ، فَإِذَا هُوَ لَيْسَ في بيتهِ ، فَلَمَّا رَأَتْهُ  المَرْأَةُ قالَتْ: مَرْحَباً وَأَهْلاً . فقال لها رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « أَيْنَ فُلانٌ ؟» قالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا الماءَ ، إِذْ جاءَ الأَنْصَاريُّ ، فَنَظَرَ إلى رَسُولِ   اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَصَاحِبَيْهِ ، ثُمَّ قالَ: الحَمْدُ لِلهِ ، ما أَحَدٌ اليَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيافاً مِنِّي . فانْطَلقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وتَمْرٌ ورُطَبٌ ، فقال: كُلُوا ، وَأَخَذَ المُدْيَةَ ، فقال لَهُ رسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « إِيَّاكَ وَالحَلُوبَ » فَذَبَحَ لَهُمْ ، فَأَكلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذلكَ العِذْقِ وشَرِبُوا . فلمَّا أَنْ شَبعُوا وَرَوُوا قال رسولُ  اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لأَبي بكرٍ وعُمَرَ رضيَ اللهُ عنهما: « وَالَّذِي نَفْسي بِيَدِهِ ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هذَا النَّعيمِ يَوْمَ القِيامَةِ ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الجُوعُ ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هذا النَّعِيمُ » رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita: Di suatu siang atau malam, Rasulullah ﷺ pernah keluar rumah. 

Dan ternyata Abu Bakar dan Umar pun keluar. 

Nabi bertanya, “Hal apa yang membuat kalian keluar dari rumah di waktu seperti sekarang?” 

Mereka menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Sedangkan aku, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hal yang membuatku keluar juga sama seperti yang membuat kalian keluar, berdirilah.”

Lalu keduanya berdiri bersama Rasulullah ﷺ. 

Kemudian Rasulullah mendatangi seorang lelaki Anshar, dan ternyata dia tidak ada di rumahnya. 

Ketika si istri melihat Rasulullah, ia berkata, “Selamat datang.”

Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Di mana si fulan?” 

Istrinya menjelaskan, “Pergi mengambilkan air tawar untuk kami.”

Tak lama kemudian, lelaki Anshar tersebut datang dan melihat Rasulullah ﷺ bersama dua sahabatnya. 

Kemudian ia berkata, “Alhamdulillah. Hari ini tidak ada tuan rumah yang kedatangan tamu yang lebih mulia dariku.”

Lalu ia masuk ke rumah dan membawakan mereka pelepah kurma yang berisi kurma muda, kurma kering, dan kurma yang masih basah, lalu ia berkata, “Silahkan makan.”

Kemudian ia mengambil pisau, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Jangan sembelih kambing yang banyak susunya.”

Ia menyembelih seekor kambing untuk mereka. Maka mereka pun makan kambing, beraneka ragam kurma dan minum. 

Tatkala mereka kenyang dan lepas dahaga, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini di hari kiamat, rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, dan belum kalian pulang dalam keadaan telah mendapatkan nikmat ini.”

H.R. Muslim [2038]. 

Orang Anshar yang mereka datangi tersebut bernama: Abu Haitsam bin at-Tayyihan radhiyallahu ‘anhu; seperti yang dijelaskan dalam riwayat at-Tirmidzi dan selainnya. 

————————————————————————

Kandungan Hadits

1. Orang-orang terbaik umat ini sampai keluar dari rumahnya karena rasa lapar. Maka wahai yang masih diuji dengan susah, jangan larut dalam sedih dan bersabarlah. [Rauh wa Rayahin, hlm. 349].

2. Segala kenikmatan dunia yang kita rasakan, maka akan dimintai tanggung jawab pada hari kiamat. [Rauh wa Rayahin, hlm. 349]. 

Akan ditanya dari mana sumbernya; halal ataukah haram? Dan ditanya syukurnya; dipakai untuk taat atau maksiat? 

Jika sikapnya terhadap nikmat banyak menyelisihi aturan agama, maka akan semakin sulit perjalanannya yang selanjutnya.

Dari sini kita paham: bahwa kenikmatan dunia tidak hanya tentang rasa bahagia, tapi ada beban berat yang menunggunya. 

3. Tidak ada salahnya menikmati makanan yang lezat, yang terpenting menunaikan hak syukurnya. 

Nabi Muhammad ﷺ dan Sahabatnya Pernah Hanya Mendapati Daun untuk Dimakan

وعن خالدِ بنِ عُمَيْرٍ العَدَويِّ قال: «خَطَبَنَا عُتْبَةُ بنُ غَزْوانَ - وكانَ أَمِيراً عَلى البَصْرَةِ - فَحمِدَ  اللهَ تعالى وأَثْنى عليْهِ ، ثُمَّ قَالَ: أَمَا بعْدُ: فَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ آذَنَتْ بصُرْمٍ، ووَلَّتْ حَذَّاءَ، وَلَمْ يَبْقَ منها  إلَّا صُبَابَةٌ كَصُبابةِ الإِناءِ يتصابُّها صاحِبُها، وإِنَكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْها إلى دارٍ لا زَوالَ لهَا، فانْتَقِلُوا بِخَيْرِ ما بِحَضْرَتِكُم ؛ فَإِنَّهُ قَدْ ذُكِرَ لَنا أَنَّ الحَجَرَ يُلْقَى مِنْ شَفِير جَهَنَّمَ فَيهْوي فِيهَا سَبْعِينَ عاماً، لا يُدْركُ لَها قَعْراً،  واللهِ لَتُمْلأَنَّ ، أَفَعَجِبْتُمْ ؟! ولَقَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ ما بَيْنَ مِصْراعَيْنِ مِنْ مَصاريعِ الجَنَّةِ مَسيرةَ أَرْبَعِينَ عاماً، وَلَيَأْتِينَّ عَلَيها يَوْمٌ وهُوَ كَظِيظٌ مِنَ الزِّحامِ، وَلَقَدْ رأَيتُني سابعَ سبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مالَنا طَعامٌ  إِلَّا وَرَقُ الشَّجَرِ، حتى قَرِحَتْ أَشْداقُنا ، فالْتَقَطْتُ بُرْدَةً فشَقَقْتُها بيْني وَبَينَ سَعْدِ بنِ مالكٍ، فَاتَّزَرْتُ بنِصْفِها، وَاتَّزَرَ سَعْدٌ بنِصفِها، فَمَا أَصْبَحَ اليَوْمَ مِنَّا أَحَدٌ .. إلَّا أَصْبَحَ أَمِيراً عَلى مِصْرٍ مِنْ الأَمْصَارِ ، وإِني أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكْونَ في نَفْسي عَظِيماً، وعِنْدَ  اللهِ صَغِيراً» . رواهُ مسلم .

Dari Khalid bin Umair al-‘Adawi berkata: Gubernur Bashrah, Utbah bin Ghazwan berkhutbah di hadapan kami. Setelah memuji Allah, ia berkata: 

“Amma baʼdu. Sesungguhnya dunia telah memberitahukan kehancurannya dan berlalu dengan cepat. Tiada yang tersisa dari dunia selain sedikit sisa yang dikumpulkan oleh para pemburu dunia. 

Sesungguhnya kalian akan meninggalkannya menuju negeri yang tidak pernah hancur. Maka hendaklah kalian berpindah dengan bekal terbaik yang ada di hadapan kalian. 

Karena telah disebutkan kepada kami (oleh Nabi) bahwa sebuah batu yang dilemparkan dari bibir neraka jahannam telah melayang di dalamnya selama tujuh puluh tahun, tetapi belum juga mancapai dasar neraka. 

Demi Allah, neraka benar-benar akan dipenuhi. 

Apakah kalian heran?

Sungguh, telah dijelaskan kepada kami (oleh Nabi ﷺ) bahwa jarak antara dua daun pintu surga adalah sejauh perjalanan empat puluh tahun. Dan benar-benar akan datang suatu hari, saat itu pintu surga akan dipenuhi oleh orang banyak yang berdesak-desakan.

Dan sungguh, aku telah menjadi orang yang ketujuh dari tujuh orang yang menyertai Rasulullah ﷺ. Saat itu kami sama sekali tidak memiliki makanan kecuali hanya daun pohon, sehingga menyebabkan sudut mulut kami bernanah. 

Saat itu aku mendapati sebuah kain selimut, maka aku membaginya dua bagian, setengah bagian aku gunakan sebagai sarung, dan setengah bagian lainnya untuk sarung Saʼad bin Malik. 

Hari ini, tiada seorang pun di antara kami melainkan telah menjadi penguasa atas sebuah negeri. Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang besar dalam pandangan diriku sendiri, namun, menjadi orang yang rendah di hadapan Allah.” 

H.R. Muslim [2967]. 

————————————————————————

📖 Kandungan Hadits

1. Mengetahui tentang sulitnya hidup Nabi ﷺ dan para sahabat dalam perjuangan menyebarkan Islam. 

Mulai dari sulit makanan, “aku telah menjadi orang yang ketujuh dari tujuh orang yang menyertai Rasulullah ﷺ. Saat itu kami sama sekali tidak memiliki makanan kecuali hanya daun pohon, sehingga menyebabkan sudut mulut kami bernanah.”

Maka siapa yang di piring makannya masih ada nasi, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah karena Dia telah sangat baik. Bandingkan dengan kehidupan Nabi ﷺ bersama para sahabat yang bahkan pernah hanya memakan daun saja! 

Mereka juga kesulitan pakaian, “aku mendapati sebuah kain selimut, maka aku membaginya dua bagian, setengah bagian aku gunakan sebagai sarung, dan setengah bagian lainnya untuk sarung Saʼad bin Malik.”

Kain itu dibagi agar demi bisa digunakan oleh dua orang! Maka, tak perlu berkeluh kesah jika tidak sanggup membeli pakaian bermerek. Pakaian yang menutupi aurat dengan baik sudah lebih dari cukup. Begitulah latihan mendidik diri agar qanaah. 

2. Anjuran buat kita untuk menyampaikan nasihat kepada saudara-saudara kita, memberi motivasi pada kebaikan-kebaikan, dan mengingatkan dari siksa neraka. Begitulah yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah, Utbah bin Ghazwan, dalam riwayat di atas. [Rauh wa Rayahin, hlm. 350]. 

Rasulullah ﷺ Biasa Mengenakan Pakaian yang Kasar

وعن أبي بُرْدَةَ بنِ أَبِي موسى الأَشْعَريِّ رضيَ  اللهُ عنه قال: «أَخْرَجَتْ لَنا عائِشَةُ رضيَ  اللهُ عنها كِساءً وَإِزاراً غَلِيظاً ، قالَتْ: قُبِضَ رسُولُ اللَّهِ  صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم  في هذين» . متفقٌ عليه.

Dari Abu Burdah [dari] Abu Musa al-‘Asyari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, 

“Aisyah radhiyallahu ‘anha mengeluarkan selembar baju dan sarung yang kasar kepada kami. Lalu beliau mengatakan, ‘Rasulullah ﷺ wafat dengan mengenakan dua kain ini.ʼ”

Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (5818) dan Muslim (2080)].

————————————————————————

Kandungan Hadits

Rasulullah ﷺ tidak mengejar kemewahan dunia. Hal itu terbukti dari beliau yang tidak mempermasalahkan persoalan pakaian, apa yang ada dan mudah didapatkan, maka itulah yang beliau pakai. [Tathriz Riyadhus Shalihin, hlm. 334].

Maka dengan pilihan hidupnya ini, beliau ﷺ telah memberikan teladan kepada yang kaya maupun tidak. 

Orang yang kaya diizinkan oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk memakai pakaian apa saja yang mubah dan tidak mengandung pelanggaran agama, namun, jika ia memilih pakaian yang sederhana dan terjangkau, maka sungguh Nabi Muhammad ﷺ telah lebih dulu memberikan teladan buatnya. 

Sedangkan bagi yang miskin, mengingat kehidupan Nabi Muhammad ﷺ adalah penguat kesabaran yang sangat bermakna. Ia berpikir dalam hatinya, “Masa-masa hidup yang sulit ini harus aku lewati dengan bersabar dan tetap memuji Allah, karena kehidupan yang lebih sulit sudah dilewati oleh manusia yang sangat aku cintai, Rasulullah ﷺ.”

Kesulitan Bahan Makanan yang Benar-benar Menyedihkan Dialami oleh Manusia-manusia Terbaik 

وعنْ سَعد بن أبي وَقَّاصٍ رضيَ اللّهُ عنه قال:«إِنِّي لأَوَّلُ العَربِ رَمَى بِسَهْمٍ  في سَبِيلِ اللهِ ، وَلَقَدْ كُنا نَغْزُو مَعَ رسولِ اللَّهِ  صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ما لَنَا طَعَامٌ إِلَّا وَرَقُ الحُبْلَةِ، وَهذا السَّمُرُ ، حَتّى إِنْ كانَ أَحَدُنا لَيَضَعُ كما تَضَعُ الشاةُ، ما لَهُ  خِلْطٌ» . متفقٌ عليه .

Dari Saʼad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah dalam perang di jalan Allah. Kami pernah berperang bersama Rasulullah ﷺ dan saat itu kami tidak memiliki makanan apa pun selain daun hublah dan daun samur. Sampai-sampai salah seorang di antara kami mengeluarkan kotoran seperti kotoran kambing yang terpisah-pisah.”

Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (6453) dan Muslim (2966)].

Hublah dan samur adalah nama dua pohon yang terkenal di wilayah gurun pasir. 
————————————————————————
Kandungan Hadits 

Kesabaran para sahabat dalam menanggung kesulitan hidup. Semua itu dalam rangka menyebarkan risalah Islam. [Rauh wa Rayahin, hlm. 351].

“Kami pernah berperang bersama Rasulullah ﷺ dan saat itu kami tidak memiliki makanan apa pun selain daun hublah dan daun samur.” Kenang Saʼad bin Abi Waqqash. 

Jadi, apabila kita memilih ambil bagian untuk menyebarkan Islam, maka para sahabat adalah figur teladan yang terbaik buat kita. 

REZEKI YANG BAIK DAN MOTIVASI AGAR QANAAH

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمّدٍ قُوتًا». متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, 

“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad adalah makanan pokok.”

Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (6460) dan Muslim (1055)].
————————————————————————
Kandungan Hadits 

1. Rezeki yang baik adalah seperti yang diminta oleh Rasulullah ﷺ: rezeki memiliki makanan pokok. Inilah rezeki yang cukup. Tidak kekurangan hingga mengakibatkan kelaparan dan penyakit; tidak juga berlebihan. 

Dengan kondisi ini seseorang menjadi selamat dari bahaya fakir dan kaya raya. [Tathriz Riyadhus Shalihin, hlm. 335].

2. Puas dan ridha dengan rezeki yang Allah beri (baca: qanaah) adalah tanda kebaikan dalam hidup kita. Kebutuhan pokok tercukupi, tetapi juga tidak sampai meminta-minta kepada orang lain. [Rauh wa Rayahin, hlm. 351].

3. Tidak boleh berdoa menginginkan hidup fakir (kekurangan). Lihatlah doa Rasulullah ﷺ tadi, “jadikanlah rezeki keluarga Muhammad adalah makanan pokok.”

Beliau tidak meminta untuk hidup miskin. Tetapi hidup cukup. 

4. Doa Rasulullah ﷺ di atas tidak berarti bahwa kita dilarang menjadi orang kaya. 

Selama jalannya halal dan hak-hak harta bisa ditunaikan, maka tidak ada yang salah. Di kalangan sahabat Rasulullah sendiri ada sekian sahabat yang kaya raya, tetapi mereka menunaikan kewajiban terkait harta dengan baik. 

Poin utama dari doa Nabi ﷺ di atas adalah menegaskan tentang profil beliau ﷺ yang hidup qanaah dan tidak rakus dengan dunia. Hal ini agar kita meniru dua sifat mulia beliau tersebut. [Kunuz Riyadhus Shalihin (7/471)]. 

✍️ -- Ditulis oleh Ustadz Hari Ahadi @ Kota Raja
Mudah Memahami Kitab Riyadhus Shalihin
t.me/nasehatetam

Bahaya Cosplay Menurut Islam

Bahaya Cosplay Menurut Islam

Bahaya Cosplay

Oleh : Ustadz Abu Nasim Mukhtar
hukum cosplay menurut islam

Dari beberapa sumber, cosplay sudah dikenal sejak lama. Bukan hanya satu dua tahun belakangan. Juga bukan sebatas dari beberapa puluh tahun terakhir. Sejarah cosplay sudah ada di zaman kerajaan-kerajaan kuno, yang diaplikasikan dalam acara-acara pesta kerajaan.

Cosplay mengalami perkembangan istilah. Jika dahulu disebut pesta topeng, zaman kini kalangan remaja lebih akrab dengan sebutan cosplay. 

Substansi cosplay adalah meniru tokoh tertentu dengan menggunakan kostum yang identik dengan tokoh tersebut. Praktiknya, bukan hanya kostum, si peniru juga berusaha mengadopsi tingkah laku, gaya bahasa, karakter, dan semua hal yang terkait dengan tokoh tersebut.

Tokoh yang ditiru dipilih dari tayangan film, serial TV, komik, anime, band music, manga, atau buku heroisme. 

Cosplay bahkan menjadi bagian dari ritual peribadatan agama tertentu. Contohnya perayaaan Halloween. Entah seperti apa kebenaran asal-usul dan latar belakangnya, yang jelas dalam Halloween para peserta banyak yang menggunakan topeng dan kostum yang mencirikan tokoh-tokoh menyeramkan, seperti ; vampire, hantu, tengkorak, penyihir, monster, setan, dan lain-lain.

Cosplay bukan sekadar tentang seni atau budaya. Cosplay juga bukan mengenai kreativitas atau ajang inovasi saja. Hakikatnya, cosplay sudah masuk dalam ranah agama. Sehingga, hukumnya pun harus diukur dengan timbangan agama.

Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“ Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka ia tergolong dari mereka “ HR Ahmad (2/50&92) dari sahabat Ibnu Umar. Disahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil (1269)

Al Munawi (Faidhul Qadir) menjelaskan maksud hadis ini, “ Berpenampilan seperti penampilan mereka. Mengikuti pola hidup dan kebiasaan mereka, seperti dalam berpakaian dan tingkah laku”

Al Utsaimin (Ta’liq Iqtidha’ ) mengingatkan, “ Ini benar-benar terjadi! Kamu ketika menggunakan kostum seperti kostum seseorang, tanpa kamu sadari hatimu telah condong kepadanya. Oleh sebab itu, akhirnya kamu akan menirunya “

Setiap ulama yang menerangkan hadis di atas, selalu menyebutkan pakaian, kostum, dan penampilan luar sebagai salah satu contohnya. 

Kenapa? Penampilan luar dan model berpakaian, pasti berdampak pada hati dan jiwa.

Ya! Cosplay bukan sebatas mengisi waktu dengan ketawa-ketiwi, menjadi yang paling sensasi, atau hanya senang-senang saja. 

Cosplay sangat berbahaya! Minimal ada 2 efek negatif :

Pertama ; kehilangan jatidiri. Ia tidak percaya diri atas apa yang Allah berikan untuknya. Walaupun dibilang hanya hobi, meskipun alasannya selama masih batas normal maka tidak mengapa, tetap saja cosplay menjadi indikasi seseorang kehilangan konsep diri.

Apalagi jika cosplay tersebut menampilkan kostum-kostum yang identik dengan simbol-simbol kekafiran atau ciri khas pelaku maksiat, tentu semakin parah lagi.

Kedua ; ia menjadi orang lain. Hal ini akan membuatnya secara maksimal bahkan totalitas untuk meniru-niru. Jadilah ia hidup dalam kepura-puraan, membohongi diri sendiri. Ia merasa asing dan aneh terhadap dirinya sendiri.

Belum lagi efek negatif lainnya, seperti ; membuang-buang waktu, pengeluaran uang yang tidak penting, mengalami pelecehan seksual karena kostum yang mengumbar aurat, stigma buruk dari masyarakat, mengalami disfungsi sosial, dan lain-lain.

Sebagai umat Islam yang harus peduli terhadap generasi mudanya, maka di antara solusi yang dapat diupayakan adalah mendekatkan kaum muda kepada tokoh-tokoh muslim sepanjang masa.

Alih bahasa dari kitab-kitab ulama yang menyebutkan biografi-biografi sahabat, ulama salaf yang tekun belajar agama, para pejuang-pejuang yang gagah berani, para khalifah yang adil, para pedagang yang jujur, dan sekian banyak figur-figur mulia lainnya, harus dilakukan.

Aspek literasi diperkuat. Perpustakaan-perpustakaan untuk anak dan remaja disiapkan dengan maksimal. 

Sehingga, anak-anak muslim tumbuh berkembang dengan mengfigurkan tokoh-tokoh muslim dalam hidupnya! Dan ini, menuntut kerjasama semua pihak.

29 Desember 2023

t.me/anakmudadansalaf


Daftar Nama Paman dan Bibi Nabi Muhammad Dari Jalur Ayah dan Ibu

Daftar Nama Paman dan Bibi Nabi Muhammad Dari Jalur Ayah dan Ibu

PAMAN DAN BIBI NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Oleh : Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له. 
Daftar Nama Paman dan Bibi Nabi Muhammad Dari Jalur Ayah dan Ibu

A. PAMAN DARI ARAH AYAH

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, 

فَمِنْهُمْ أَسَدُ اللَّهِ وَأَسَدُ رَسُولِهِ سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، والعباس، وأبو طالب واسمه عبد مناف، وأبو لهب واسمه عبد العزى، والزبير، وعبد الكعبة، والمقوم، وضرار، وقثم، والمغيرة ولقبه حجل، والغيداق واسمه مصعب، وَقِيلَ: نوفل، وَزَادَ بَعْضُهُمُ: العوام، وَلَمْ يُسْلِمْ مِنْهُمْ إِلَّا حمزة، والعباس.

 Mereka adalah

  1. Singa Allah dan singa RasulNya, pemimpin para syuhada yaitu Hamzah bin Abdil Muthallib. 
  2. Al-Abbas. 
  3. Abu Thalib namanya adalah Abdu Manaf. 
  4. Abu Lahab namanya adalah Abdul 'Uzza. 
  5. Az-Zubair. 
  6. Abdul Ka'bah. 
  7. Al-Muqawwim( al-Harits). 
  8. Dhirar. 
  9. Qutsam. 
  10. Al-Mughirah( hajal). 
  11. Al-Ghaidan namanya adalah Mush'ab dan ada pendapat yang mengatakan Naufal. 

Sebagian ulama menambahkan al-'Awwam." 

وَأَسَنُّ أَعْمَامِهِ الحارث، وَأَصْغَرُهُمْ سِنًّا: العباس

"Paman beliau yang paling tua adalah al-Harits. Sedangkan yang paling muda adalah al-Abbas." 

Sumber : Zād al-Ma'ād, 1/102.

B. BIBI DARI ARAH AYAH

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, 

وَأَمَّا عَمَّاتُهُ، فصفية أُمُّ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، وعاتكة، وبرة، وأروى، وأميمة، وأم حكيم البيضاء. أَسْلَمَ مِنْهُنَّ صفية، وَاخْتُلِفَ فِي إِسْلَامِ عاتكة وأروى، وَصَحَّحَ بَعْضُهُمْ إِسْلَامَ أروى.

"Adapun bibi-bibi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka adalah Shafiyyah ummu az-Zubair bin al-Awwam, 'Atikah, Barrah, Arwa, Umaimah, dan Ummu Hakim al-Baydha'. Yang masuk islam dari mereka adalah Shafiyyah. Sedangkan islamnya Atikah dan Arwa diperselisihkan di kalangan ulama. Sebagian ulama membenarkan tentang islamnya Arwa." 

Sumber: Zād al-Ma'ād, 1/102. 

C. PAMAN DARI JALUR AYAH YANG MENJUMPAI MASA ISLAM DAN MASUK ISLAM

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, 

مِنْ عَجَائِبِ الِاتِّفَاقِ أَنَّ الَّذِينَ أَدْرَكَهُمُ الْإِسْلَامُ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَةٌ لَمْ يُسْلِمْ مِنْهُمُ اثْنَانِ وَأَسْلَمَ اثْنَانِ وَكَانَ اسْمُ مَنْ لَمْ يُسْلِمْ يُنَافِي أَسَامِيَ الْمُسْلِمَيْنِ وَهُمَا أَبُو طَالِبٍ وَاسْمُهُ عَبْدُ مَنَافٍ وَأَبُو لَهَبٍ وَاسْمُهُ عَبْدُ الْعُزَّى بِخِلَافِ مَنْ اسْلَمْ وهما حَمْزَة وَالْعَبَّاس

"Dan di antara yang disepakati oleh para ulama adalah bahwa paman-paman Nabi dari jalur ayah yang menjumpai islam ada empat. Dua dari mereka tidak masuk islam, dan dua yang lain telah masuk islam. Yang tidak masuk islam, nama mereka bukanlah nama kaum muslimin. Mereka adalah abu Thalib, namanya adalah Abdumanaf dan abu Lahab, namanya adalah Abduluzza. Sedangkan yang masuk islam adalah Hamzah dan al-Abbas." 

Sumber: Fath al-Bārī,  7/196

D. PAMAN DARI ARAH IBU

Ibnu Hibban rahimahullah berkata, 

وأم رسول الله صلى الله عليه وسلم آمنة بنت وهب بن عبد مناف بن زهرة «١» بن «٢» كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب. ولم يكن لها أخ- فيكون خالا للنبي صلى الله عليه وسلم- إلا عبد يغوث «٣» بن وهب، ولكن بنو زهرة يقولون: إنهم أخوال رسول صلى الله عليه وسلم، لأن آمنة أم رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت منهم

"Dan Ibu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Aminah bintu Wahb bin Abdimanaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib. Beliau tidak punya saudara laki-laki yang menjadi paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali Abdu Yaghuts bin Wahb. Namun banu Zuhrah mengatakan bahwa mereka adalah paman-paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari jalur ibu karena Aminah ibunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bagian dari mereka"(as-Sīrah an-Nabawiyyah, 1/44).

Di antara sahabat yang berasal dari Bani Zuhrah adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Maka beliau adalah paman Nabi dari jalur ibu.  al-Imam al-Bukhari menyebutkan di dalam shahihnya, 

باب مناقب سعد بن أبي وقاص الزهري وبنو زهرة أخوال النبي صلى الله عليه وسلم وهو سعد بن مالك

"Bab tentang keutamaan Sa'ad bin Abi Waqqash az-Zuhriy (dari Bani Zuhrah). Dan Bani Zuhrah adalah paman-paman Nabi dari pihak ibu. Namanya adalah Sa'ad bin Malik." 

Al-Hafidz ibnu Hajar berkata, 

لأَنَّ أُمَّهُ آمِنَةَ مِنْهُمْ وَأَقَارِبُ الْأُمِّ أَخْوَالٌ

"Karena ibu beliau yaitu Aminah adalah dari Bani Zuhrah dan kerabat-kerabat ibu termasuk paman (dari arah ibu)." (Fath al-Baarii, 7/83). 

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam begitu bangga dengan keberadaan Sa'ad sebagai pamannya dari jalur ibu. Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata, 

أقبلَ سعدٌ فقالَ النبي صلَّى اللَّه عليه وسلم هذا خالي فليُرِني امرؤٌ خالَهُ

'Pada suatu hari Sa'ad datang, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

'Ini adalah pamanku (dari arah ibu). Hendaknya seseorang memperlihatkan kepadaku mana pamannya (dari arah ibu).'" (Shahih at-Tirmidzi, no. 3.752).

Subhanallah betapa senangnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyambut kehadiran pamannya. Al-Imam al-Mubarakfuuri berkata, 

 أَيْ لِيُظْهِرَ أَنْ لَيْسَ لِأَحَدٍ خَالٌ مِثْلُ خَالِي 

"Yakni beliau ingin memperlihatkan bahwa tidak ada bagi seorang pun paman (dari arah ibu) yang sama dengan paman beliau." (Tuhfah al-Ahwadzī, 10/174).

E. BIBI DARI JALUR IBU

Sebatas yang kami ketahui dari penjelasan para ulama wal'ilmu 'indallah bahwa bibi beliau dari arah ibu ada dua: 

1. Fakhitah 

Al-Hafidz Ibu Hajar rahimahullah berkata, 

فاختة بنت عمرو الزهرية «١»

: خالة النبيّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم

"Fakhitah bintu Amr az-Zuhriyyah adalah bibi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari arah ibu"(Al-Ishābah, 8/257). 

2. Farī'ah

Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata, 

فريعة بنت وهب الزهرية رفعها النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بيده، وقال: " من أراد أن ينظر إلى خالة رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فلينظر إلى هذه "

"Farī'ah bintu Wahb az-Zuhriyyah, beliau pernah diangkat oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tangannya dan bersabda, 'Barangsiapa yang ingin melihat bibinya Rasulullah dari arah ibu, hendaknya melihat wanita ini'"(Asad al-Ghābah, 7/230). 

Sumber : t.me/alfudhail


Nasihat Penting Bagi Suami dan Istri

Nasihat Penting Bagi Suami dan Istri

 NASEHAT UNTUK SUAMI DAN ISTRI

Oleh : Asy-Syaikh Sa'id bin Salim Ad-Darmaki hafizhahullah ta'ala
(ulama dan Masyayikh Uni Emirat Arab dan pengajar di Syabakah Bainūnah Lil 'Ulūmi Asy-Syar'iyyah)
Nasihat Penting Bagi Suami dan Istri

1. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Tidak Tergesa-gesa Dalam Menjatuhkan Cerai 

"Wahai sang suami .... Wahai orang yang telah Allah 'Azza wa Jalla muliakan dengan kepemimpinan atas wanita dan Allah jadikan talak (cerai) pada tangannya.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman  :

*ٱلرِّجَالُ قَوَّمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ *

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka".

(An Nisa 4:34) 

Tenanglah dan janganlah anda tergesa-gesa padanya, karena sesungguhnya Allah menjadikan cerai itu ditangan anda (wahai suami), karena andalah yang lebih bijaksana, sehingga anda mampu untuk menimbang antara  maslahat-maslahat dan kerusakan-kerusakan;

adapun wanita maka emosionalnya lebih mendominasi sisi perasaannya diatas sisi pikirannya".

2. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Menjaga Hubungan Ikatan Pernikahan

"Ingatlah wahai sang suami bahwasanya menikah adalah termasuk dari nikmat Allah 'Azza wa Jalla kepada anda.

 Maka jagalah dan janganlah anda menyia-nyiakannya, karena sebab  :

Ketergelinciran yang masih bisa diperbaiki,

Kekeliruan yang masih bisa dimaafkan,

Kelalaian yang masih bisa diabaikan.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman  :

*وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً  إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ*

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir".

(Ar Ruum 30:21) 

3. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Mengetahui Bahwa Setan Menyukai Perceraian

"Ingatlah wahai Sang Suami bahwasanya setan adalah musuh bebuyutanmu dan dia suka bila kamu kehilangan nikmat (memiliki) pasangan, oleh karena itu dia suka perceraian dan terus mengupayakannya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Jābir radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan  : Rasulullah ﷺ bersabda  :

*إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ على الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ منه مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فيقول: ما صَنَعْتَ شيئا، قال ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: ما تَرَكْتُهُ حتى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قال: فَيُدْنِيهِ منه، وَيَقُولُ: نِعْمَ أنت ".*

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air.

Kemudian dia mengutus para tentaranya.

Maka yang paling dekat kedudukannya di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya.

Salah satu tentara iblis datang lalu berkata :

"Saya telah melakukan ini dan itu".

Maka iblis mengatakan : 

"Kamu belum melakukan apa-apa".

Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata :

"Tidaklah aku meninggalkan seseorang kecuali setelah aku pisahkan antara dia dengan istrinya".

Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya. Lalu iblis berkata :

"Kamulah yang terbaik”

(HR. Muslim dalam shahihnya no. 2813)

Sehingga setan itu menyukai darimu agar engkau menceraikan istrimu dan menjadikan perpisahan diantara kalian berdua, maka janganlah engkau berikan kesempatan kepada setan dari hal tersebut ".

4. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Tidak Menjadikan Perceraian Sebagai Solusi Awal Dalam Menyelesaikan Masalah 

"Wahai para Suami.. Perceraian itu tidaklah seorang suami menempuhnya kecuali setelah dia melakukan seluruh sarana-sarana perdamaian yang syar'i yang Allah 'Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya dan Nabi ﷺ sebutkan dalam sunnahnya tentang menyikapi perselisihan-perselisihan istrinya.

Sehingga perceraian bukanlah solusi pertama dalam menyelesaikan masalah;

bahkan perceraian itu adalah solusi akhir dalam menyelesaikan masalah.

Sehingga barangsiapa yang menjadikannya (perceraian) sebagai solusi awal dalam menyelesaikan masalah, niscaya dia tidak mendapatkan taufiq dalam pilihannya".

5. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Memberikan Nasehat Yang Baik Kepada Istri

"Wahai Sang Suami  :

Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berwasiat  kepada anda terhadap sang istri untuk memperlakukannya dengan baik, maka terimalah wasiat Nabimu karena padanya terdapat kebahagiaan untukmu

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda  :

 *استوصوا بالنساء خيرا فإنهن عوان عندكم "*

"Ingatlah wasiatku terhadap para istri dengan kebaikan karena sesungguhnya mereka adalah 'awānun disisi kalian".

Yakni mereka adalah tawanan, sehingga istri itu mengikuti suaminya, suamilah yang :

Memerintahnya

Melarangnya 

Dan memberikan nafkah kepadanya

Maka :

Berlemah lembutlah

Dan bersabarlah kepadanya ".

6. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Mengetahui Bahwa Problematika Rumah Tangga Pasti Ada

"Ingatlah wahai Sang Suami  :

Bahwasanya hampir-hampir tidaklah kosong satu rumahpun dari problematika dan perselisihan pada sisi-sisi pandang, sampaipun rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 

Apakah engkau mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala telah memberi peringatan kepada istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cerai dalam Al-Qur'an ? Bersamaan itu besarnya kedudukan mereka, Allah ta'ala berfirman  :

*عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُۥٓ أَزْوَٰجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ*

"Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kalian".

(Qs. At-Tahrim : 5)

Apakah anda mengetahui bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memboikot istri-istrinya selama satu bulan penuh ? sehingga Rasulullah shalawaātullahi wa salāmuhu 'alaihi bermalam sendirian

Apakah engkau mengetahui bahwasanya istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi di antara mereka perselisihan ? seperti yang terjadi pada para wanita yang dimadu*".

7. Nasehat Untuk Para Suami : Agar Bersabar Dan Berinteraksi Dengan Baik Kepada Istri

"Wahai sang suami  :

Rabbmu telah memerintahkan anda agar : 

Bersabar dengan sang istri 

Dan berinteraksi kepadanya dengan cara yang baik walaupun engkau membencinya

Allah _Rabbul 'Izzati Jalla wa 'Ala_ berfirman  :

*وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا*

"Dan bergaullah dengan mereka secara yang ma'ruf. Kemudian bila engkau tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak".

(Qs. An-Nisa : 19) 

Dan dalil yang menunjukkan kebenaran dari hal tersebut adalah sabda Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam  :

*لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ.*

"Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang mukminah. 

Jika ia tidak menyukai suatu perangai dari istrinya, bisa jadi ia akan meridhai perangai yang lainnya."

HR. Muslim, no. 1469》

8. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Mengetahui Bahwasanya Ikatan Pernikahan Termasuk Kenikmatan Yang Harus Dijaga

"Saudariku para istri :

Ingatlah bahwasanya menikah adalah nikmat dari Allah kepadamu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam keadaan beliau mengajak bicara para wanita :

*لَعَلَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُولُ أَيْمَتُهَا مِنْ أَبَوَيْهَا، ثُمَّ يَرْزُقُهَا اللَّهُ زَوْجًا، وَيَرْزُقُهَا مِنْهُ وَلَدًا*

"Barangkali ada di antara kalian yang lama masa lajangnya di tengah orangtuanya, kemudian Allah memberinya rezeki berupa suami, dan memberinya rezeki dari sang suaminya seorang anak." (As-Silsilah Ash-Shahihah : 823)

(Rasulullah dalam hadits diatas) menyebut suami sebagai rezeki, anak dan harta (dalam lafazh lain disebutkan harta) sebagai rezeki. 

Dan yang namanya kenikmatan itu hendaknya dijaga dan tidak boleh disia-siakan."

9. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Mengetahui Bahwasanya Ketaatan Kepada Suami Termasuk Sebab Masuk Kedalam Surga

"Saudariku para istri :

Ingatlah bahwasanya ketaatan kepada suami termasuk salah satu sebab untuk masuk ke dalam Surga.*

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 

*إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب شئت*

"Apabila seorang wanita :

Shalat lima waktu, 

Puasa di bulan Ramadhan, 

Menjaga kemaluannya, 

Dan menaati suaminya, 

Niscaya akan dikatakan kepadanya :

"Masuklah engkau ke dalam jannah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki." (Shahih At-Targhib : 1932)

Apabila engkau telah mengetahui (wahai para istri) bahwasanya surga itu diliputi oleh berbagai perkara yang dibenci (jiwa), empat perkara ini membutuhkan kesabaran dan kesungguhan jiwa untuk meraih pahala yang agung yaitu jannah."

10. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Mengetahui Bahwasanya Ketaatan Kepada Suami Termasuk Sebab Masuk Kedalam Surga

"Saudariku para istri :

Ingatlah bahwasanya ketaatan kepada suami termasuk salah satu sebab untuk masuk ke dalam Surga.*

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 

*إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب شئت*

"Apabila seorang wanita :

Shalat lima waktu, 

Puasa di bulan Ramadhan, 

Menjaga kemaluannya, 

Dan menaati suaminya, 

Niscaya akan dikatakan kepadanya :

"Masuklah engkau ke dalam jannah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki." (Shahih At-Targhib : 1932)

Apabila engkau telah mengetahui (wahai para istri) bahwasanya surga itu diliputi oleh berbagai perkara yang dibenci (jiwa), empat perkara ini membutuhkan kesabaran dan kesungguhan jiwa untuk meraih pahala yang agung yaitu jannah."

11. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Tidak Meminta Cerai Tanpa Ada Sebab Yang Syar'i 

"Wahai para istri  :

Meminta cerai tanpa ada sebab yang syar'i yang benar adalah termasuk sebab mendapatkan adzab pada hari kiamat. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda  :

*أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّة*

"Wanita siapa saja yang meminta suaminya untuk menceraikannya tanpa madharat atasnya, maka harumnya surga haram baginya". (Shahih Abi Dawud nomor  : 2226)

Dan meminta khulu'* tanpa ada sebab adalah termasuk dari tanda-tanda kemunafikan 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda  :

*الْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ*

"Para wanita yang meminta khulu' mereka adalah wanita-wanita yang munafiq* ". (Shahih At-Tirmidzi nomor  : 1186)

Al-Washāyâ Asy-Syar'iyyah Lil Hayātiz Zaujiyyah : 11

*Khulu' adalah memutuskan hubungan pernikahan dengan kesediaan istri mengembalikan maharnya.

*Karena mereka menyembunyikan bencinya terhadap sang suami dan menampakkan ketaatan secara zahirnya.

12. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Meminta Perdamaian Dengan Suaminya Sebelum Tidur Ketika Suaminya Sedang Marah Kepadannya

"Ingatlah saudariku para istri :

Bahwasanya usahamu melakukan perdamaian bersama suamimu sebelum tidur adalah termasuk tanda-tanda wanita penduduk surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

*نِساؤُكُمْ من أهلِ الجنةِ الوَدُودُ الوَلودُ العؤودُ على زوجِها، التي إذا غَضِبَ جاءتْ حتى تَضَعَ يَدَها في يَدِ زَوْجِها، وتقولُ: لا أَذُوقُ غَمْضًا حتى تَرْضَى.*

"Wanita kalian yang termasuk penduduk surga adalah yang :

¤ Penyayang (terhadap suaminya), 

¤ Banyak anak, 

¤ Dan selalu kembali kepada suaminya, yang bila suaminya marah, ia akan datang kepada suaminya hingga ia meletakkan tangannya di tangan suaminya, dan mengatakan :

"Aku tidak akan bisa merasakan tidur hingga engkau ridha."

(As-Silsilah Ash-Shahihah 287)

13. Nasehat Untuk Para Istri : Agar Berdamai Dengan Suami Jika Dikhawatirkan Ada Sikap Nusyuz Dan I'radh 

"Saudariku para istri :

Rabbmu menginginkanmu agar berdamai dengan suamimu, apabila engkau mengkhawatirkan sikap _nusyuz_ (jeleknya pergaulan) dari sang suami atau i'rādh (penolakan, berpaling atau menghindari). 

Allah Ta'ala berfirman :

*وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا  وَالصُّلْحُ خَيْرٌ  وَأُحْضِرَتِ الْأَنفُسُ الشُّحَّ  وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}* [النساء : 128]

"Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap penolakan dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu (wahai para suami) bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap berpaling), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (An-Nisa 128)

Jadi mengalah kepada sang suami dalam sebagian permasalahan-permasalahan, problematika-problematika dan hak-hak, bukanlah aib pada diri seorang wanita. Bahkan hal ini termasuk kesempurnaan (kepribadian) sang istri."

14. Nasehat Untuk Para Suami Dan Istri : Agar Bermusyawarah Kepada Orang Yang Dapat Dipercaya Ketika Menghadapi Problematika Rumah Tangga  

"Wahai para suami dan istri :

Berhati-hatilah dari menyebutkan problematika rumah tangga kepada keluarga dan teman. 

Suami dan istri hanya boleh bermusyawarah kepada penasihat yang dapat dipercaya yang akan menunjukkan keduanya kepada perkara yang bermanfaat bagi mereka dengan baik lagi sempurna.

Adapun keluarga dan teman, terkadang akan berpihak pada salah satu dari kalian, karena terpengaruh dengan kekerabatannya dan persahabatannya kepadanya, sehingga ia membantunya di atas kesalahan dan tidak menunjukkan kepada jalan yang benar."

15. Nasehat Untuk Para Suami Dan Istri : Agar  Pembicaraan Antara Suami Dan Istri Diatas Dasar Rasa Cinta Dan Kasih Sayang 

"Wahai para suami dan istri :

Hendaknya pembicaraan kalian dibangun di atas :

¤ Ketenangan 

¤ Dan menggunakan fikiran.

Jauhilah kalian dari sikap : 

¤ Kesombongan 

¤ Dan keangkuhan  

Hendaknya perbincangan kalian itu ada di atas dasar :

¤ Cinta 

¤ Dan kasih sayang.

Dan jadikanlah kebenaran dan perdamaian sebagai tujuan, bukan untuk :

¤ Balas dendam 

¤ Dan mengalahkan pasangannya."

16. Nasehat Untuk Para Suami Dan Istri : Memohon Pertolongan Kepada Allah Dalam Mengarungi Bahtera Rumah Tangga 

"Wahai para suami dan istri :

Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan berdo'a pada shalat malam dan ketika sujud untuk memperbaiki keadaan dan menyatukan hati. 

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

*وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ  لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ  إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [الأنفال : 63]*

"Dan Dia Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). 

Kalau kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka. 

Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 63)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

*القلوب بين إصبعين من أصابع الله يقلبها كيف شاء*

"Hati (para hamba) itu di antara dua jemari Allah, yang Ia membolak-balikkannya sekehendak-Nya." (Shahih At-Tirmidzi : 2140) 

17. Nasehat Untuk Para Suami Dan Istri : Beberapa Kunci Dasar Kehidupan Bahagia Antara Suami Dan Istri

"Wahai para suami dan istri :

Diantara dasar kehidupan rumah tangga bahagia dan sukses adalah  :

(1). Pergaulan diantara kalian berdua dengan cara yang ma'ruf, jadi masing-masing dari kalian berdua berinteraksi dengan yang lainnya dengan cara yang dia menyukai agar yang lainnya memperlakukannya dengan cara tersebut .

(2). Memaafkan, berlapang dada dan mengampuni kesalahan-kesalahannya, karena inilah yang dituntut dari pergaulan dan interaksi diantara kalian berdua. 

(3). Menimbang antara kelebihan dan kekurangan, jangan hanya fokus pada kekurangan pasangannya dan melupakan kelebihan-kelabihannya.

(4). Menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan untuk masing-masing dari suami istri 

(5). Menyesuaikan diri bersama tabi'at-tabi'at dari pihak yang lainnya, memuliakan kelebihan dan berusaha untuk merubah kekurangan yang lainnya dengan metode yang terbaik".

Sumber : Al-Washāyâ Asy-Syar'iyyah Lil Hayātiz Zaujiyyah

 https://t.me/salafy_cirebon

Kisah Najmuddin Ayyub Mencari Jodoh

Kisah Najmuddin Ayyub Mencari Jodoh

KISAH NAJMUDDIN AYYUB MENCARI JODOH

Kisah Najmuddin Ayyub Mencari Jodoh

Semoga Allah mengkaruniakan kami dan anda sekalian dengan semisal isteri yang shalehah ini yang akan menggandeng tangan anda menuju ke dalam jannah

Najmuddin Ayyub (amir Tikrit) belum juga menikah dalam tempo yang lama. Maka bertanyalah sang saudara Asaduddin Syirkuh kepadanya: “Wahai saudaraku, kenapa engkau belum juga menikah?”

Najmuddin menjawab: “Aku belum menemukan seorang pun yang cocok untukku.”

“Maukah aku pinangkan seorang wanita untukmu?” tawar Asaduddin.

“Siapa?” Tandasnya.

“Puteri Malik Syah, anak Sulthan Muhammad bin Malik Syah Suthan Bani Saljuk atau puteri menteri Malik,” jawab asaduddin.

“Mereka semua tidak cocok untukku” tegas Najmuddin kepadanya.

Ia pun terheran, lalu kembali bertanya kepadanya: “Lantas siapa yang cocok untukmu?”

Najmuddin menjawab: “Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Ini merupakan mimpinya.

Asaduddin pun tak merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut. Ia bertanya kepadanya: “Terus dari mana engkau akan mendapatkan wanita seperti ini?”

“Barang siapa yang mengikhlaskan niatnya hanya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya,” jawab Najmuddin.

Suatu hari, Najmuddin duduk bersama salah seorang syaikh di masjid di kota Tikrit berbincang-bincang. 

Lalu datanglah seorang pemudi memanggil syaikh tersebut dari balik tabir sehingga ia memohon izin dari Najmuddin guna berbicara dengan sang pemudi. 

Najmuddin mendengar pembicaraan sang syaikh dengan si pemudi. Syaikh itu berkata kepada si pemudi: “Mengapa engkau menolak pemuda yang aku utus ke rumahmu untuk meminangmu?”

Pemudi itu menjawab: “Wahai syaikh, ia adalah sebaik-baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan, akan tetapi ia tidak cocok untukku.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?” Tanya syaikh.

Ia menjawab: “Tuanku asy-syaikh, aku menginginkan seorang pemuda yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan aku akan melahirkan seorang anak darinya yang akan menjadi seorang ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Allahu Akbar, satu ucapan yang persis dilontarkan oleh Najmuddin kepada saudaranya Asaduddin.

Ia menolak puteri Sulthan dan puteri menteri bersamaan dengan kedudukan dan kecantikan yang mereka miliki.

Demikian juga dengan sang pemudi, ia menolak pemuda yang memiliki kedudukan, ketampanan, dan harta.

Semua ini dilakukan demi apa? Keduanya mengidamkan sosok yang dapat menggandeng tangannya menuju jannah dan melahirkan seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Bangkitlah Najmuddin seraya memanggil syaikh tersebut, “wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi ini.”

“Tapi ia seorang wanita fakir dari kampung,” jawab asy-syaikh.

“Wanita ini yang saya idamkan.” tegas Najmuddin.

Maka menikahlah Najmuddin Ayyub dengan sang pemudi. Dan dengan perbuatan, barang siapa yang mengikhlaskan niat, pasti Allah akan berikan rezeki atas niatnya tersebut.

Maka Allah mengaruniakan seorang putera kepada Najmuddin yang akan menjadi sosok ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin. Ketahuilah, ksatria itu adalah Shalahuddin al-Ayyubi.

Inilah harta pusaka kita dan inilah yang harus dipelajari oleh anak-anak kita.

Talkhis: Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله.

Di ambil dari Majmu’ah Thalibatul ‘ilmi

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

⏩ https://t.me/alistifadah

🛜 http://walis-net.blogspot.com/2023/11/kisah-najmuddin-ayyub-mencari-jodoh.html


Seperdua Penduduk Surga

Seperdua Penduduk Surga

Seperdua Penduduk Surga

Ustadz Abu Nasim Mukhtar
Seperdua Penduduk Surga

Di salah satu tenda Mina ketika haji Wada'. Rasulullah ﷺ, yang ditemani sejumlah sahabat, bertanya : " Rela kah kalian jika menjadi seperempat penduduk surga?". "Tentu", mereka menjawab.

Nabi Muhammad  ﷺ melanjutkan, " Rela kah kalian jika menjadi dua pertiga penduduk surga? ". "Tentu ", dengan jawaban yang sama.

" Rela kah kalian menjadi seperdua penduduk surga? ", tanya Nabi ﷺ kembali. Mereka menjawab, " Tentu ".

Nabi Muhammad ﷺ lantas bersabda:

والَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، إنِّي لَأَرْجُو أنْ تَكُونُوا نِصْفَ أهْلِ الجَنَّةِ

" Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan- Nya, sungguh aku benar-benar berharap kalian menjadi seperdua penduduk surga " HR Bukhari 6528 Muslim 221 dari sahabat Abdullah bin Mas'ud.

Subhanallah! Surga yang begitu luas, seluas langit dan bumi, seperduanya untuk umat Islam. Seperdua sisanya untuk umat-umat yang lain, termasuk Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabi nya.

Hal ini membuktikan umat Islam adalah umat yang paling banyak pengikutnya. Mayoritas!

Di dalam hadis Ibnu Abbas ( HR Bukhari 5705 Muslim 220 ), Rasulullah ﷺ menerangkan ; 

" Ditampakkan umat-umat kepadaku. Aku melihat seorang nabi pengikutnya sedikit, seorang nabi hanya satu pengikutnya, seorang nabi dengan dua orang pengikut, bahkan ada seorang nabi tidak punya pengikut satu orang pun".

Beliau ﷺ melanjutkan, " Lalu diperlihatkan kepadaku manusia begitu banyak. Aku kira mereka umatku. Lalu diterangkan kepadaku bahwa mereka adalah Musa dan pengikutnya ".

" Lihatlah ke arah sana! Ternyata ada lautan manusia. Lihatlah ke arah satunya! Ternyata ada lautan manusia juga. Diterangkanlah kepadaku bahwa :

هذِه أُمَّتُكَ ومعهُمْ سَبْعُونَ ألْفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بغيرِ حِسابٍ ولا عَذابٍ

" Itulah umatmu! Bersama mereka ada 70 ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan adzab ".

Allahu Akbar! Umat Islam adalah umat yang terbanyak bila dibandingkan umat-umat yang lain.

Nabi Muhammad ﷺ pasti bersenang hati dan berbangga dengan banyaknya pengikut beliau.

Maka dari itu, beliau memerintahkan sekaligus memberikan alasan dengan bersabda :

تزوَّجوا الوَدودَ الولودَ فإنِّي مُكاثرٌ بِكُمُ الأُممَ

" Nikahilah wanita yang sifatnya penyayang dan subur melahirkan. Karena sungguh, aku akan berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain " HR Abu Dawud 2050 dari sahabat Ma'qil bin Yasar.

Asy Syaikh Al Utsaimin dalam Syarah Bulughul Maram menerangkan alasan Nabi Muhammad ﷺ bersenang hati dengan umat Islam yang menjadi mayoritas. Beliau berkata :

" Karena sungguh, semakin banyak pengikut Nabi ﷺ, tentu akan semakin banyak pahala yang beliau dapatkan...jika mereka mengikuti Nabi ﷺ dan mengamalkan syariat, tentu beliau memperoleh pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikuti "

Hadis-hadis semacam ini merupakan dalil betapa istimewanya Nabi Muhammad ﷺ,  dan sungguh istimewanya umat Islam.

Maka, seorang muslim tidak boleh berkecil hati jika di suatu tempat hanya bersendiri. Jangan pesimis bila menjadi minoritas. Cuma sedikit.

Sebab, akan tiba suatu masa dimana ia bergembira dan bersenang hati karena menyaksikan dirinya menjadi bagian dari mayoritas. Bagian dari seperdua penduduk surga.

Hadis-hadis di atas sekaligus motivasi untuk mendakwahkan Islam seluas-luasnya. Bersabarlah dalam berdakwah. Ingat, semakin banyak pengikut, akan semakin banyak pahalanya.

Ahad Sore di Ujung Jawa, 17 Desember 2023

t.me/anakmudadansalaf


Buruk Jiwa, Orang Dicela.

Buruk Jiwa, Orang Dicela.

Buruk Jiwa, Orang Dicela.

Oleh : Ustadz Abu Nasim Mukhtar
Buruk Jiwa, Orang Dicela.

Tentu pernah mendengar kaum Madyan?

Ibnu Katsir dalam Al Bidayah, menyebut penduduk Madyan sebagai bangsa Arab yang menempati wilayah di negeri Ma'an, di perbatasan Syam yang bersinggungan dengan daerah Hijaz.

Penduduk Madyan adalah orang-orang kafir yang punya adat membegal musafir, mengancam dan menakuti-nakuti kafilah, dan menyembah pohon Aikah.

Selain itu, penduduk Madyan terkenal dengan sifat culas dan curang dalam berdagang, baik timbangan maupun takaran.

Nabi Syuaib diutus Allah untuk mendakwahi kaum Madyan. Mereka diajak beribadah hanya kepada Allah saja.

Nabi Syuaib juga mengingatkan:

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ  وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ 

"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka " (QS Hud: 85)

Sifat curang dalam berdagang tidak ada baiknya sedikit pun. Orang curang akan dijauhi dan ditinggalkan. Orang curang susah untuk dipercaya lagi.

Sifat jujur lebih mahal dibandingkan emas dan permata. Orang jujur pasti dicari dan dihormati. Orang jujur tentu dicintai.

Jujur dalam berdagang adalah modal besar untuk berkembang. Sementara curang pasti menyebabkan kebangkrutan.

Jika culas dan curang menjadi sifatnya, jangan salahkan siapa-siapa jika tak ada yang mau diajak kerjasama dagang. Jangan jiwa buruk, orang lain yang dicela!

Kita diingatkan dengan sabda Nabi Muhammad  ﷺ ;

فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَتَما وكَذَبا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِما

" Jika keduanya (penjual dan pembeli) jujur dan sama saling terbuka, jual beli mereka pasti diberkahi. Sebaliknya, jika keduanya menutup-nutupi dan berbohong, barakah jual beli mereka pasti dicabut" 

HR Bukhari 2079 Muslim 1532 dari sahabat Hakim bin Hizam.

Syaikh Bin Baz menyatakan, " Hadis ini menerangkan wajibnya berlaku jujur dan terus terang dalam berbagai muamalah ".

Rasulullah ﷺ bersabda (HR Muslim 2564 dari Abu Hurairah) :

الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ

" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga tidak boleh ia menzhaliminya, menghina, membohongi dan merendahkannya "

Jika seseorang berbuat curang dalam berdagang, lalu mengaku salah. Ia menyatakan bertaubat. Berjanji tidak mengulangi lagi. Bahkan, siap mengganti setiap kerugian yang ditimbulkan. Apakah taubatnya diterima?

Jelas! Sepanjang taubatnya sungguh-sungguh, taubatan nasuuha, siapa yang menghalangi dan siapa yang akan menolak? 

Allah Ta’ala adalah dzat yang maha pengampun dan maha menerima taubat hamba.

"Kalau sudah menyatakan bertaubat, lalu orang itu ingin mengajak kerjasama dagang lagi, apakah harus diterima ajakannya? ", tanyanya.

Jawaban saya kepada tamu yang datang ke rumah hari itu, kurang lebih 2 tahun lalu, " Tidak harus! Dalam situasi normal dan baik-baik saja, ajakan kerjasama dagang tidak wajib diterima, apalagi jika pernah ada kasus curang ".

Sebab, kerjasama dagang itu prinsipnya saling ridha. Masing-masing punya hak untuk menentukan, dengan siapa ia bekerjasama dagang? Jika ada yang mengajak, haknya untuk menolak atau menerima.

Sehingga, harus dibedakan antara 2 kasus; ia yang menyatakan bertaubat karena telah curang dalam kerjasama dagang, dengan kasus permohonan untuk bekerjasama dagang lagi.

"Ia tetap saudara kita ", lanjut saya. Kita jaga nama baik dan kehormatannya. Apalagi sudah minta maaf, siap mengganti rugi, dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Namun, untuk bekerjasama lagi dalam urusan dagang, itu urusan lain.

Hal ini sebagai bukti bahwa sifat culas dan curang harus dihindari dan dijauhi. Jangan coba-coba, walau satu kali! 

Jujurlah dalam berdagang, berkah dari Allah tentu datang.

Jumat, 15 Desember 2023

t.me/anakmudadansalaf


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia